Seorang fanatik merek Belanda yang namanya saya tidak perlu sebutkan (namun saya harap baca) dan berprofesi sebagai “keyboard warrior” harian pernah menghina saya dalam sebuah komen dengan mengatakan saya “pecinta ketrikan”.
Saat membacanya dulu saya tidak tersinggung, namun kadang memang saya tetap kepikiran mengapa ada orang seperti itu di dunia modern?
Saya tau tidak semua sepaham dengan mempelajari ciri ciri dan rahasia identitas sebuah sepeda antik, banyak yang hanya karena faktor ekonomi saja dan semua dinilai kalau ada uangnya saja, dimana itu sudah menjadi kewajaran dalam dunia barang antik. Contohnya di dunia sejak dahulu ada arkeolog dan ada penjarah barang bersejarah.

Namun, bukankah baik kalau yang karena faktor ekonomi juga membuka pikiran atas informasi baru tentang apa yang dia jual sehingga tidak menyesatkan yang membeli.
Perlu di catat bagi yang muslim menjual sesuatu yang terselubung itu adalah haram dan wajib dalam berdagang mengetahui minimal cacat dan kekurangan barang tersebut untuk di sampaikan kepada yang membeli.
Salah seorang kawan saya sebagai contoh La Djadoel dan Empie Murino adalah segelintir orang yang selalu ingin tau barang yang mereka jual agar tidak perlu mengarang ngarang serta menggunakan mitos dalam berjualan.
Sebagai contoh dua pertanyaan yang pernah datang dari mereka adalah yang termasuk unik dan anti mainstream serta tidak termasuk banyak di ketahui orang lain, seperti ketrikan “tiga panah” dan ketrikan “333”.


Karena saya seorang “pecinta ketrikan”, maka saya senang senang saja kalau mencari informasi seperti itu dan ikut bahagia tanpa pamrih jika berhasil membantu sesama pecinta sepeda antik dan pedagang jujur.
Nah, tentang kedua pertanyaan itu, setelah saya telusuri ternyata betul komponen sepeda Hub dengan ketrikan 333 dan crank dengan ketrikan tiga panah adalah termasuk anti mainstream dan tidak pernah di bahas di Indonesia.
Ketrikan 333 adalah logo lama produsen legendaris Shimano yang paling tertua, sedangkan tiga panah adalah logo dari produsen Takagi yang juga sama tuanya di Jepang.
Untuk kedua perusahaan ini akan saya bahas di lain artikel untuk mengetahui umur dari komponen yang menggunakan, namun dapatkah anda lihat mengapa mencari tau tentang barang dagangan itu juga penting untuk memberikan nilainya yang sesuai?
Ingat kalau mencari ilmu itu hanya bisa di terima oleh orang yang mau berpikir dan tidak mudah mencarinya walaupun mau, yang tidak mau itu kadang hanya mencari cara mudah untuk menghina yang mencari ilmu agar ia tetap terlihat pintar.